004Mona Belajar Memasak (Perspektif makanan dalam kehidupan)
posted by Edwin Arif on January 27th, 2007
Huhuhu… Mona hari ini belajar memasak…
Pernah baca juga hal yang sejenis, tentang anjuran (larangan?) untuk para kaum ibu agar tidak memberikan ASI ke bayinya pada saat sang ibu sedang memiliki kondisi emosi yang negatif, seperti saat sedang marah, cemas, membenci, dll. ASI (makanan) yang akan membentuk darah daging energi si bayi, akan memiliki pengaruh yang berbeda bagi pertumbuhan si bayi jika diberikan ketika si ibu sedang marah dibandingkan dengan ASI yang diberikan dengan penuh kasih sayang. Hmmm… Is it true? Percaya sih kl gw… Dan kemudian masih tentang makanan,
Dari Jabir radhiallahu `anhu ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seseorang masuk rumah, lalu ia berdzikir kepada Allah ketika masuk dan ketika makan, maka syaithan akan berkata (kepada kawan-kawannya): “Tidak ada tempat bermalam bagimu dan tidak ada makan malam.” Tetapi apabila ia masuk ke rumah tanpa berdzikir kepada Allah, maka syaithan akan berkata (kepada kawan-kawannya): “Kalian mendapatkan tempat bermalam”. Dan apabila ketika makan ia tidak berdzikir kepada Allah (membaca Bismillah), maka syaithan akan berkata (kepada kawan-kawannya): “Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.” (HR. Muslim dalam shahihnya /2018)
Apa bedanya setan makan bareng kita sama nggak? Ya pasti ada bedanya lah!!! Walaupun perbedaan itu sesuatu yang tidak kasat mata… Sesuatu yang mempengaruhi jiwa… Sesuatu yang mungkin (bertentangan dengan hipotesa awal) juga berpengaruh terhadap jenis darah daging yang akan mendukung segala macam aktifitas kita.
So, pada akhirnya gw mengambil kesimpulan, makanan jelas bukan sekedar buat ganjel perut. Makanan bukan sekedar makanan, ada sesuatu yang lebih dibalik sekedar nasi, ayam bakar, sus daging giling, coklat, dll. Kebalikan dari contoh – contoh diatas, gw percaya makanan yang bisa dibeli dari uang halal keringat si bapak karena rasa sayangnya dgn keluarga, masakan yang diolah si ibu dengan kasih sayang untuk suami dan anak – anaknya, juga akan memiliki pengaruh positif terhadap mereka yang memakan masakan tersebut. Entah apa “sesuatu” yang positif tersebut, mungkin akan mengalirnya rasa sayang dalam darah daging, mungkin kejernihan pemikiran hasil supply energi yang positif, mungkin juga bertambahnya rasa cinta. Hmmm.. Entahlah… Yang jelas gw percaya ada sesuatu yang lebih dibalik materi makanan.
Keep up your work, Mon. It’s not just a food, it’s a source of life.