Judul: The Straight Path - Jalan Yang Lurus
Pengarang: Alwi Alatas
Penerbit: Zikrul Hakim, Cetakan Pertama Pebruari 2006
The Straight Path, sebuah kisah penempuhan jalan-Nya yang lurus. Tapi, ini bukan sekedar perjalanan, melainkan tentang pengembaraan hidup manusia…. tentang cinta dan pengkhianatan… tentang persahabatan, persaudaraan, sekaligus permusuhan… tentang keluhuran cita - cita dan daya tahan demi menggapainya… tentang pelurusan dekadensi, berlalunya waktu, dan berulangnya penyimpangan. Bahkan lebih dari itu, mengisahkan tentang totalitas hidup seorang penempuh jalan… perjalanan menuju puncak cinta dan cita - cita… perjalanan menuju Tuhan. Ia merupakan realitas yang akrab bagi kita semua, tetapi seringkali kehilangan maknanya yang begitu dalam dan kaya.
Banyak potongan - potongan filosofis yang bisa diambil dari buku ini, salah satunya yang sempat memberikan “pencerahan” kepada saya adalah tentang kunci ilmu pengetahuan. Diceritakan bahwa suatu ketika rombongan penempuh jalan yang lurus tiba di sebuah perkampungan yang modern. Perkampungan ini digambarkan memiliki kebudayaan yang tinggi dan ilmu pengetahuan yang maju. Penduduknya sejahtera, memiliki etika tinggi, sopan santun, namun dibalik itu menyimpan kesombongan dan angkuh. Penggambaran interaksi dan konflik pandangan antara kampung modern dengan para penempuh jalan yang lurus, selanjutnya dengan apik disajikan dibuku ini oleh penulis untuk menyentil kondisi masyarakat kita sekarang yang banyak silau oleh gemerlap modernisasi.
Beberapa waktu setelah rombongan para penempuh jalan yang lurus melewati kampung modern tersebut, diceritakan tentang salah satu anggota yang sepertinya masih penasaran dengan fenomena kemajuan teknologi di kampung modern yang barusan mereka lalui.
“Guru, ajarkanlah kepada kami kunci ilmu pengetahuan,” pinta seorang murid membuka perbincangan pada pagi itu.
“Kunci pengetahuan…. ,” guman Sang Guru.
“Ism… Ism merupakan salah satu kunci penting dari pengetahuan.”
Ism yang artinya nama.. Ya, nama - nama adalah kunci dari ilmu pengetahuan, begitulah jawaban Sang Guru.. Setelah membaca tentang penjelasan Sang Guru yang diceritakan dibuku ini, saya secara pribadi baru tersadar mengapa Nabi Adam a.s diberikan kemuliaan dengan pengetahuan tentang nama - nama. Selama ini yang saya pahami, kemuliaan pengetahuan tentang nama - nama itu berkaitan erat dengan nama - nama Allah, Asma’ul Husna… Mungkin pemahaman seperti itu juga tidak salah, banyak rahasia yang terkandung dalam nama - nama Allah. Akan tetapi, secara umum nama - nama ternyata memang adalah KUNCI ILMU PENGETAHUAN! Nama - nama tidak sekedar hanya bisa diaplikasikan kepada objek seperti binatang, tumbuhan atau materi, akan tetapi manusia diberi kemampuan untuk mengenali dan memberikan penamaan kepada sifat - sifat, predikat (kata kerja), bahkan sesuatu yang abstrak. Jika kita berpindah tempat, maka aktivitas yang dilakukan memiliki nama: gerak. Jika senar gitar kita berbunyi dengan frekuensi 396Hz, maka namanya adalah: Do. Materi terkecil namanya: atom. Dan lain lain dan lain lain… Dengan mengerti tentang nama - nama, maka manusiapun bisa merangkai nama - nama tersebut menjadi “Bahasa”. Itulah ilmu pengetahuan, suatu bahasa yang terangkai dari nama - nama.
Bahasa ilmu pengetahuan tak terbatas hanya dengan bahasa yang kita kenal dan ucapkan dalam kehidupan sehari - hari. Masing - masing bidang memiliki bahasa mereka sendiri. Sebagai contoh dalam Fisika gerak kinetik, kita harus memahami dahulu tentang nama - nama yang dipakai, seperti jarak, waktu, arah, aksi, reaksi. Apa itu jarak? Apa maksudnya arah? Waktu itu apa? Aksi? Reaksi? Kemudian setelah kita mengetahui tentang nama - nama tersebut, kemudian nama - nama tersebut dapat dirangkai menjadi suatu “bahasa sederhana” seperti kecepatan dan percepatan. Bahasa itu dapat terus dikembangkan lagi menjadi Gaya, Gesekan, Momentum, dan lain - lain. Bagaimana kita bisa berbicara dalam “bahasa” fisika gerak kinetik, menuntut kemampuan kita untuk mengerti tentang nama - nama yang digunakan dalam “bahasa” tersebut dan bagaimana kita bisa merangkainya dalam satu bentuk kalimat yang memiliki arti.
Seluruh bidang ilmu pengetahuan memiliki nama - nama dan struktur bahasa tersendiri. Adalah tugas kita untuk mengerti tentang nama - nama, dan bagaimana kita bisa ber”bahasa” dengan baik setelahnya, untuk mencapai pemahaman dan kemampuan ber-ilmu pengetahuan. Disini menjadi jelas, bahwa kunci awalnya ilmu pengetahuan memang tak lain adalah: ISM, dan menjadi jelas juga, bagaimana manusia dilebihkan dengan diberikan pengertian tentang NAMA - NAMA.
